Kabut Asap, Kepala SDN 20 Mambok Sintang Akui BDR Kurang Efektif

Menitterkini.com, SINTANG —
Dampak dari buruknya kualitas udara ISPU akibat kabut asap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang demi kesehatan siswa sudah seringkali Pemberlakuan Belajar Dari Rumah (BDR) kali ini kembali diberlakukan BDR bagi PUD,SD hingga SMP selama tiga hari, 15–17 Oktober 2026,.

Kabut asap di Kabupaten Sintang menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah dasar. Metode pembelajaran jarak jauh dinilai belum sepenuhnya efektif, terutama bagi siswa kelas rendah.

Kepala SD Negeri 20 Mambok Sintang, Kecamatan Sintang, Abdul Syukur, mengatakan pembelajaran jarak jauh memiliki sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan akses teknologi hingga kemampuan siswa mengikuti pembelajaran secara mandiri.

Menurutnya, kondisi tersebut paling dirasakan siswa kelas I, II, dan III yang masih membutuhkan pendampingan langsung dari guru.

“Untuk sekolah dasar, pembelajaran jarak jauh ini memang menjadi dilema bagi kami. Apalagi untuk kelas rendah, seperti kelas I, II, dan III, memang tidak mudah,” ujarnya. Pada Kamis,(15/10/2026).

Abdul Syukur mengungkapkan, pihak sekolah sempat mencoba pembelajaran melalui Zoom. Namun, pelaksanaannya belum menjangkau seluruh siswa secara optimal karena keterbatasan perangkat dan kendala lainnya.

Dari percobaan tersebut, hanya sekitar 68 persen siswa yang dapat mengikuti pembelajaran melalui Zoom.

“Kalau pembelajaran daring atau online ini, jujur, kurang efektif. Karena tidak bertatap muka, respons anak berbeda. Belum lagi tidak semua anak bisa selalu siap mengikuti pembelajaran,” jelasnya.

Guru Berikan Tugas, Materi Dipadatkan

Menghadapi kondisi tersebut, SD Negeri 20 Mambok memilih memberikan tugas kepada siswa sebagai metode pembelajaran selama BDR berlangsung.

Pemberian tugas tetap mengikuti jadwal pelajaran yang telah ditetapkan. Guru juga diminta menyusun materi secara ringkas dengan memprioritaskan materi-materi strategis agar siswa tetap dapat memahami pelajaran di tengah keterbatasan waktu.

“Materinya harus dibuat seringkas mungkin. Kita prioritaskan materi-materi yang strategis, yang penting anak bisa memahami dan mengerjakan tugas yang diberikan,” katanya.

Pihak sekolah juga telah mengatur mekanisme pengumpulan tugas berdasarkan format yang ditetapkan. Selain itu, batas waktu pengumpulan tugas ditetapkan hingga pukul 20.00 WIB agar guru memiliki waktu untuk memeriksa hasil pekerjaan siswa.

Abdul Syukur mengakui, penerapan BDR berpotensi membuat penyampaian materi tidak selesai sesuai target pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya.

Meski demikian, sekolah tetap berupaya agar proses belajar mengajar berjalan dengan menyesuaikan kondisi yang ada.

Orang Tua Diminta Awasi Anak di Rumah

Selain kendala pembelajaran, Abdul Syukur mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menjaga anak selama kabut asap masih terjadi.

Ia berharap orang tua dapat mengawasi aktivitas anak dan membatasi kegiatan di luar rumah, terutama ketika kondisi udara belum membaik.

Menurutnya, kebijakan belajar dari rumah seharusnya dimanfaatkan untuk mengurangi aktivitas anak di luar ruangan.

Ia menyayangkan masih adanya sebagian orang tua yang membawa anak keluar rumah sekadar melihat kondisi Sungai Melawi yang debit airnya menyusut hingga memperlihatkan hamparan pasir.

“Harapan saya, anak-anak jangan banyak bermain di luar rumah. Dengan kondisi cuaca seperti ini, diharapkan anak-anak menggunakan masker dan orang tua ikut mengawasi,” pesannya.

Ia menegaskan, meskipun pengawasan orang tua tidak mungkin dilakukan sepenuhnya sepanjang waktu, upaya menjaga anak dari paparan asap tetap perlu menjadi perhatian bersama.

Distribusi MBG Menyesuaikan PDR

Terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Abdul Syukur mengatakan pihak sekolah telah memiliki komunikasi melalui grup koordinasi terkait pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

Dengan adanya koordinasi tersebut, pelaksanaan program MBG dapat menyesuaikan kebijakan PDR yang berlaku, sehingga tidak terjadi kebingungan seperti pada pelaksanaan sebelumnya.

Menurutnya, koordinasi dan penyampaian informasi lebih awal sangat penting agar pihak sekolah maupun pelaksana program dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi pembelajaran.

Ia berharap kondisi segera membaik sehingga siswa dapat kembali belajar secara tatap muka, yang dinilainya lebih optimal untuk mendukung proses belajar anak sekolah dasar.

Exit mobile version