Kopri Komisariat STAIMA Sintang Gelar Talkshow 16 HAKTP dan Hari HAM

Menitterkini.com, SINTANG-

Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Komisariat STAIMA Sintang menggelar talkshow dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) dan peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM), Sabtu (13/12/2025), di Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIMA) Sintang. Kegiatan ini mengusung tema “Mewujudkan Ruang Aman: Menghapus Kekerasan terhadap Perempuan dalam Semangat HAM”.

Ketua Komisariat PMII STAIMA Sintang, Janita Apriliyanti, menegaskan bahwa Kampanye 16 HAKTP dan Hari HAM merupakan momentum penting untuk meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan, khususnya di lingkungan kampus. Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM yang masih kerap terjadi, termasuk di ruang yang seharusnya aman seperti institusi pendidikan.

“Kampus bukan hanya pusat intelektual, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang harus menjunjung tinggi martabat manusia tanpa diskriminasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pencegahan kekerasan harus dibarengi pendidikan kesadaran kritis, keberpihakan pada korban, serta keberanian melawan budaya pembiaran.

Pemateri sesi pertama, Nur Fatihatu Salamah, menjelaskan bahwa 16 HAKTP merupakan kampanye global tahunan yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember untuk meningkatkan kesadaran dan advokasi penghapusan kekerasan berbasis gender.

Ia memaparkan data bahwa pada 2025 Indonesia mencatat 30.199 kasus kekerasan seksual, dengan mayoritas korban adalah perempuan. Sebagai penyintas, ia berharap kehadirannya dapat menjadi penguat bahwa penyintas berhak didengar dan mampu bangkit.

“Saya berharap diskusi ini memberi efek jera bagi pelaku kekerasan seksual di mana pun berada,” katanya.

Sementara itu, pemateri sesi kedua, Moh Farhan Mutsanna, menyampaikan apresiasi atas kesadaran mahasiswa yang dinilainya masih organik dalam memperjuangkan kesetaraan. Ia menekankan pentingnya gerakan nyata untuk mengedukasi bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama.

Menurutnya, perubahan sosial yang cepat kerap melemahkan norma, sehingga diperlukan upaya kolektif untuk kembali meneguhkan nilai keadilan dan kemanusiaan.

Fasilitator kegiatan, Yandi Pratama, berharap kegiatan serupa dapat terus dimarakkan dengan durasi diskusi yang lebih panjang dan ditindaklanjuti secara konkret, mengingat potensi dan kualitas peserta yang dinilai sangat baik.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan deklarasi komitmen oleh seluruh peserta sebagai bentuk penolakan terhadap kekerasan terhadap perempuan serta dukungan terhadap penegakan dan perlindungan hak asasi manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *