Karhutla Sintang Capai 25 Hektare, BPBD Ungkap Kendala Sumber Air di Sejumlah Titik

Menitterkini.com, SINTANG-

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, diperkirakan telah membakar lahan sekitar 25 hektare di sejumlah titik.

Kepala Seksi Kesiap Siagaan BPBD Kabupaten Sintang, Binjamin, mengatakan titik karhutla tersebut tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Cirora Dua, Tertong, Anggah Jaya, Lengkenat hingga kawasan Tugu Jam.

“Kurang lebih 25 hektare. Rata-rata satu titik itu sekitar 3 sampai 5 hektare,” ujar Benyamin pada Sabtu,(8/8/2026).

Ia mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi petugas dalam penanganan karhutla adalah keterbatasan sumber air, terutama pada lokasi yang cukup jauh dari sumber air.

“Di Lengkenat kendalanya sumber air. Kadang jauh dari titik lokasi, jadi tidak bisa cepat,” katanya.

Menurut Binyamin, kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla.

BPBD bersama unsur terkait juga telah membentuk dan mengaktifkan satgas untuk membagi penanganan di sejumlah titik kebakaran.

Satgas tersebut melibatkan BPBD, Damkar, Manggala Agni, KPH, TNI, Polri hingga unsur lainnya.

“Jadi kami berbagi titik-titik yang ada. Ada juga Brimob dan Polri yang membantu,” jelasnya.

Binyamin menyebut, jika kondisi karhutla terus terjadi setiap hari, kekuatan personel dan peralatan akan semakin terkuras.

Karena itu, pihaknya juga akan mengundang perusahaan-perusahaan yang memiliki kelengkapan peralatan pemadaman untuk terlibat aktif dalam penanganan karhutla.

“Teman-teman satgas di 45 perusahaan itu ada yang lengkap alatnya. Jadi mereka juga harus proaktif. Kami akan mengundang mereka tanggal 12,” ujarnya.

Petugas Diingatkan Waspadai Karhutla di Lahan Gambut

Binjamin menjelaskan, lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla.

Sebab, api yang terlihat sudah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati. Api masih bisa membara di dalam lapisan gambut dan kembali muncul ketika tertiup angin.

“Kalau tidak dipadamkan dengan SOP yang benar, di atas padam, bawahnya masih. Besok kena angin bisa muncul lagi apinya,” katanya.

Untuk mengatasi kebakaran di lahan gambut, diperlukan peralatan khusus yang dapat menyemprotkan air hingga ke bagian dalam tanah.

Peralatan tersebut, kata Binjamin, salah satunya digunakan oleh Manggala Agni.

Ia mengapresiasi dukungan Manggala Agni yang dinilai cukup proaktif membantu penanganan karhutla di Sintang.

“Sejauh ini mereka sangat membantu. Terima kasih kepada Manggala Agni, mereka proaktif,” ungkapnya.

Masyarakat Diminta Tahan Dulu Bakar Lahan

Binyamin juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar Oktober.

“Kalau bisa masyarakat jangan membakar lahan dulu. Walaupun ada perda yang mengatur, kalau bisa tahan dulu membakar lahan karena kemaraunya panjang,” tegasnya.

Ia secara khusus meminta masyarakat tidak membakar lahan gambut karena berpotensi menyebabkan kebakaran sulit dikendalikan.

Selain itu, masyarakat peduli api (MPA), Desa Tangguh Bencana (Destana), kelompok tani maupun relawan di tingkat desa diharapkan ikut membantu satgas apabila terjadi kebakaran di wilayah masing-masing.

“Kalau sudah ada MPA, Destana atau kelompok tani di perkebunan, lebih baik langsung bergabung dengan satgas yang ada di tempat,” pungkasnya.

Exit mobile version