Menitterkini.com, SINTANG-
Keluhan sopir angkutan terhadap sulitnya mendapatkan BBM solar subsidi di Kabupaten Sintang kembali mencuat. Ketua Gabungan Sopir Angkutan Senentang (GSAS) Kabupaten Sintang, Alvin, mengaku persoalan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang benar-benar dirasakan para sopir.
Menurut Alvin, para sopir bahkan pernah mendatangi Depot Pertamina bersama rekan-rekan sopir angkutan lainnya untuk menyampaikan aspirasi. Pertemuan tersebut juga melibatkan pihak SPBU dan pemerintah daerah hingga menghasilkan kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani oleh seluruh pihak.
Namun, kesepakatan itu, kata dia, hanya berjalan sesaat.
“Jatah antrean khusus hanya berjalan sekitar 10 harian saja. Setelah itu kembali seperti semula. Kami kembali kesulitan mendapatkan solar subsidi di SPBU,” ujar Alvin pada Menitterkini.com, Kamis (16/7/2026).
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat puluhan sopir angkutan harus mencari solar di pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal. Akibatnya, biaya operasional kendaraan terus membengkak dan berdampak pada pendapatan sopir.
Alvin berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan mengambil langkah tegas agar kesepakatan yang pernah dibuat benar-benar dijalankan oleh seluruh SPBU di Sintang.
“Kami hanya ingin dipermudah mendapatkan solar sesuai hak kami. Jangan sampai sopir angkutan terus membeli di pengecer dengan harga tinggi karena itu sangat memberatkan,” katanya.
Saat ini, Gabungan Sopir Angkutan Senentang (GSAS) memiliki sekitar 40 armada yang aktif beroperasi. Menurut Alvin, jumlah tersebut seharusnya dapat didata oleh pemerintah bersama Pertamina sehingga pembagian antrean khusus bisa diatur secara merata di seluruh SPBU yang ada di Kota Sintang.
“Kalau 40 armada ini didata, kemudian dibagi jadwal atau jatah di beberapa SPBU, saya rasa tidak akan mengganggu antrean masyarakat. Yang kami inginkan hanya kepastian agar bisa bekerja dengan tenang,” pungkasnya.
