Menitterkini.com, SINTANG –
Tren penyakit dalam satu bulan terakhir di ISPA Masih Dominan, Puskesmas Tanjungpuri Waspadai Lonjakan Suspek Campak dan Rubella di Kabupaten Sintang masih didominasi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi cuaca yang tidak menentu—panas di siang hari dan hujan lebat secara tiba-tiba—dinilai menjadi faktor utama meningkatnya kasus tersebut.
Kepala Puskesmas Tanjungpuri, dr. Andar Jimmy Pintabar mengungkapkan selain ISPA, pihaknya juga menemukan kemunculan kasus penyakit yang tergolong jarang, yakni campak (measles) dan rubella atau campak Jerman.
“Dalam dua minggu terakhir, terdapat beberapa kasus suspek campak dan rubella di wilayah kerja Puskesmas Tanjungpuri, khususnya di Kecamatan Sintang. Kasus ini lebih banyak terjadi pada anak-anak,” ujarnya. Pada Menitterkini.com, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama jika anak mengalami gejala seperti demam disertai flu, muncul bercak merah (makulopapular) di seluruh tubuh, mata merah, hingga diare.
“Jika ada gejala tersebut, segera bawa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Virus campak sangat mudah menular melalui droplet atau percikan air liur,” tegasnya.
Lebih lanjut, Andar menyebutkan bahwa di beberapa daerah di Kalimantan Barat seperti Pontianak dan Kubu Raya, kasus campak bahkan telah masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).
Selain itu, untuk kasus rabies yang sempat meningkat pada Februari, kini mulai menunjukkan tren penurunan pada Maret. Sementara itu, demam berdarah dengue (DBD) juga menjadi perhatian, mengingat peralihan musim dari panas ke hujan berpotensi meningkatkan kasus.
Dalam upaya pencegahan campak, Andar menekankan pentingnya imunisasi bagi anak. Ia menyarankan agar bayi dan balita mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan dan 18 bulan, serta booster saat kelas 1 SD melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
“Kami pernah menemukan kasus campak pada anak yang belum diimunisasi. Imunisasi memang tidak menjamin 100 persen kebal, tetapi sangat efektif untuk meminimalkan risiko komplikasi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa campak bukan penyakit sepele. Bahkan, di luar Kalimantan Barat, terdapat tenaga kesehatan yang meninggal akibat penyakit ini.
Terkait data, pada Maret 2026 tercatat lima kasus suspek campak di wilayah kerja Puskesmas Tanjungpuri. Namun, hingga kini belum ada hasil laboratorium karena keterbatasan fasilitas pemeriksaan di daerah.
“Sampel harus dikirim ke laboratorium provinsi. Per 1 April kami baru diminta untuk mengirimkan sampel, namun proses pemeriksaan masih menunggu kesiapan dari pihak provinsi,” ungkapnya.
Pihak puskesmas pun mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan, meningkatkan kebersihan, serta memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sebagai langkah pencegahan utama.












