Menitterkini.com, SINTANG-
Aliansi Mahasiswa Senentang bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Sintang menggelar audiensi dan penyampaian aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Sintang di Kantor Bupati Sintang, Jumat (12/6/2026).
Audiensi tersebut dihadiri Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Sintang. Dari unsur mahasiswa hadir perwakilan Aliansi Mahasiswa Senentang, BEM Universitas Kapuas (UNKA) Sintang, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIMA) Sintang, BEM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kapuas Raya (STIKARA) Sintang, BEM Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sintang, serta BEM Sekolah Tinggi Teologi Khatulistiwa (STTK) Sintang.
Dalam forum tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai aspirasi yang berfokus pada isu pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur sebagai sektor strategis pembangunan daerah.
Ketua Aliansi Mahasiswa Senentang, Nursamsu Ananda Maedi, menegaskan bahwa mahasiswa hadir untuk menyampaikan persoalan-persoalan mendasar yang dinilai menjadi kunci kemajuan Kabupaten Sintang.
“Sesuai dengan pemberitahuan dan tuntutan kami, disini kami hanya membahas tiga isu krusial, yang menurut kami ini merupakan jantung untuk pengembangan daerah, dari isu infrastruktur, isu pendidikan, dan isu kesehatan,” ujar Nursamsu Ananda Maedi selaku Ketua Aliansi Mahasiswa Senentang.
Dari sektor kesehatan, Dominika Ully menyoroti tingginya angka kematian ibu dan bayi yang dinilai masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Sintang.
“Kami datang bukan sekedar membawa data, tetapi membawa suara kegelisahan masyarakat Kabupaten Sintang, terhadap persoalan kesehatan ibu dan bayi yang hingga hari ini masih menjadi ancaman nyata. Tingginya kematian AKI dan AKB bukan lagi persoalan biasa, melainkan keadaan darurat kesehatan yang membutuhkan tindakan cepat, serius, dan terukur dari Pemerintah Daerah,” kata Dominika Ully.
Sementara itu, Ketua DEMA STAIMA Sintang, Muhammad Afrizal, menyoroti pelaksanaan kebijakan zonasi pendidikan yang dinilai masih menyisakan sejumlah kendala bagi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
“Khususnya kebijakan jalur zonasi pada sekolah negeri tingkat sekolah menengah. Namun, dalam kenyataannya kebijakan ini masih menyisakan persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama bagi anak-anak dari desa yang memiliki keterbatasan akses pendidikan,” ungkap Muhammad Afrizal selaku Ketua DEMA STAIMA Sintang.
Persoalan kesejahteraan tenaga pendidik dan fasilitas pendidikan juga menjadi perhatian mahasiswa. Ketua BEM STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Agusti Putra, menyampaikan bahwa masih terdapat berbagai permasalahan yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.
“Perlu kami jelaskan bahwa kami hadir pada forum ini untuk menyampaikan keresahan masyarakat pendidikan, khususnya para tenaga pendidik dan peserta didik yang hingga hari ini masih menghadapi berbagai persoalan terkait kesejahteraan serta fasilitas pendidikan yang belum memadai,” ujar Agusti Putra, selaku Ketua BEM STKIP PK Sintang.
Selain itu, Presiden Mahasiswa BEM UNKA Sintang, Fero Arimbi Eza Muryanto, menekankan pentingnya pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan, terutama akses jalan dan jaringan internet di wilayah terpencil.
“Untuk infrastruktur, meningkatkan kualitas akses menuju sekolah melalui perbaikan dan pemeliharaan jalan, memperluas akses teknologi informasi dan komunikasi dengan menjadikan jaringan internet yang memadai, dan melakukan pendataan dan pemetaan kondisi infrastruktur di setiap sekolah-sekolah,” ungkap Fero Arimbi Eza Muryanto.
Secara umum, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan strategis kepada Pemerintah Kabupaten Sintang, yaitu:
1. Membuka ruang dialog dan kolaborasi antara mahasiswa dengan Pemerintah Kabupaten Sintang.
2. Mewujudkan pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan hingga ke daerah terpencil.
3. Melakukan optimalisasi dan evaluasi terhadap kebijakan zonasi pendidikan.
4. Memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak hingga desa-desa terpencil, termasuk pemerataan tenaga kesehatan dan bidan terlatih, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung seperti ambulans dan sistem rujukan darurat yang cepat.
5. Meningkatkan fasilitas pendidikan serta kesejahteraan guru.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, mengapresiasi cara mahasiswa menyampaikan aspirasi secara tertib dan dialogis.
“Saya bangga di Sintang ini, beberapa kampus ini menunjukkan mahasiswa kekinian yang tidak membakar ban, tidak satu batang korek api pun dibakar, itu luar biasa. Tapi ini kalian tampil dengan sangat terhormat,” ujar Gregorius Herkulanus Bala selaku Bupati.
Bupati juga menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sintang saat ini masih menghadapi keterbatasan fiskal dalam menjalankan berbagai program pembangunan, namun terus berupaya memperjuangkan dukungan dari pemerintah pusat.
“Banyak hal yang kami lakukan, sekarang fiskal sangat kurang, sehingga kami dan bapak wakil Bupati selalu berkomunikasi dengan pusat, untuk memperjuangkan apa yang harus kita dapat,” kata Gregorius Herkulanus Bala.
Audiensi berlangsung dalam suasana dialogis dan menjadi wadah penyampaian aspirasi mahasiswa terkait berbagai persoalan pembangunan daerah. Melalui forum tersebut, mahasiswa berharap tuntutan yang disampaikan dapat menjadi perhatian dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Sintang guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik dan pembangunan yang lebih merata di Kabupaten Sintang.












