Tim Kebudayaan Dorong Pelestarian Tradisi Dayak Lewat Film “Jandeh”

Menitterkini.com, SINTANG-

Tim Kebudayaan menggelar pemutaran film dokumenter dan diskusi bertajuk “Jandeh: Tradisi Dayak yang Tergerus Zaman” di Bagoes Guest House, Meeting Room Lantai 2, Kabupaten Sintang, Senin (2/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari diseminasi hasil penelitian budaya yang telah dilaksanakan sejak 2025 hingga 2026.

Ketua panitia, Ahmad Supendi, mengatakan bahwa film dokumenter tersebut disusun melalui observasi lapangan dan wawancara dengan maestro atau tokoh adat serta komunitas setempat. Dokumentasi ini bertujuan merekam sejarah, makna, serta dinamika tradisi Jandeh di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.

“Penelitian kami dimulai pada tahun 2025 dan alhamdulillah selesai pada 2026 dengan keluaran berupa film dokumenter yang diputar hari ini. Tradisi Dayak saat ini menghadapi tantangan asimilasi, baik karena faktor agama, perpaduan budaya, maupun perkembangan teknologi yang masuk ke lingkungan adat,” ujarnya.

Menurut Ahmad, proses asimilasi tersebut berpotensi menggerus sejumlah tradisi Dayak apabila tidak didokumentasikan dan dilestarikan. Karena itu, film ini diharapkan menjadi arsip budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai warisan leluhur mereka.

Ia menjelaskan, kegiatan ini juga sejalan dengan program digitalisasi budaya yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, yang bertujuan mendokumentasikan budaya daerah secara digital sebagai upaya pelestarian jangka panjang.

“Harapan kami, melalui video ini anak-anak muda tetap mencintai dan melestarikan budayanya sendiri. Setidaknya, tradisi Jandeh yang pernah hidup dan berkembang dapat terus dikenang dan dipelajari oleh generasi mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, Helmi, menyampaikan apresiasi kepada tim kebudayaan atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pemutaran film dokumenter tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga sarana membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga budaya.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga budaya. Tradisi Jandeh merupakan bagian dari kekayaan budaya Dayak yang mengandung makna mendalam tentang kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan nilai-nilai luhur lainnya,” ujarnya.

Helmi mengakui bahwa globalisasi dan perubahan pola hidup membawa tantangan besar bagi kelangsungan tradisi lokal. Banyak tradisi yang mulai memudar bukan karena kehilangan makna, melainkan karena kehilangan ruang dalam kehidupan masyarakat modern.

Ia berharap film dokumenter tersebut dapat menjadi medium edukasi yang efektif, sekaligus menjembatani generasi lama dan generasi baru dalam memahami nilai-nilai budaya.

Sebagai daerah dengan kekayaan budaya yang beragam, Kabupaten Sintang, lanjutnya, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan budaya Dayak sebagai bagian integral dari identitas daerah.

“Saya berharap melalui diskusi ini lahir gagasan-gagasan baru tentang bagaimana tradisi dapat dihidupkan kembali dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Budaya harus menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan, terutama bagi generasi muda,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *