Menitterkini.com, SINTANG-
Gedung Indoor Apang Semangai, Sintang, mendadak berubah menjadi “arena perang”. Bukan perang sungguhan, tetapi ratusan pesilat muda dari berbagai daerah saling adu teknik, kecepatan, dan mental bertanding dalam Kejuaraan Pencak Silat Open Turnamen se-Kalimantan Barat Piala KONI Sintang yang resmi dibuka, Kamis, (12/2/2026).
Sorak penonton, dentuman musik pengiring, serta teriakan pelatih terdengar bersahut-sahutan sejak pagi. Satu per satu pesilat naik gelanggang. Tendangan sabit, bantingan, hingga kuncian keras membuat pertandingan berlangsung panas. Beberapa atlet bahkan harus ditangani tim medis karena kerasnya benturan saat duel.
Ketua KONI Kabupaten Sintang, Momon Hermanto, menegaskan kejuaraan ini bukan sekadar lomba biasa. Ia menyebut event ini menjadi ajang pembuktian sekaligus pencarian bibit atlet Kalbar.
“Sedang berlangsung kejuaraan pencak silat open turnamen se-Kalimantan Barat dari 12 sampai 15 Februari 2026 di Indoor Apang Semangai Sintang. Kejuaraan ini diikuti 384 peserta dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Barat,” jelas Momon.
Ia menambahkan, nomor yang dipertandingkan sangat lengkap, mulai dari pra usia dini, usia dini, pra remaja, remaja hingga dewasa. Artinya, hampir seluruh jenjang pembinaan pencak silat Kalbar turun ke Sintang.
Menurut Momon, kejuaraan ini sengaja dibuat terbuka agar pembinaan tidak hanya berhenti di atas kertas.
“Selama ini banyak latihan, tapi tanpa kompetisi atlet tidak akan berkembang. Di gelanggang inilah mental petarung terbentuk. Kami ingin dari Sintang lahir atlet yang bisa tembus nasional bahkan internasional,” tegasnya.
Ia berharap kejuaraan ini menjadi momentum kebangkitan olahraga bela diri tradisional di Kalbar. Apalagi pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga identitas budaya.
“Melalui kegiatan ini kami berharap muncul atlet-atlet potensial. KONI ingin prestasi Kalbar meningkat. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di daerah sendiri,” ujarnya.
Kejuaraan ini juga berdampak langsung pada geliat ekonomi daerah. Hotel, penginapan, hingga rumah makan di Sintang dipadati atlet, official, dan keluarga yang datang dari berbagai kabupaten/kota.
Sementara itu, sejumlah pelatih mengaku sengaja membawa atlet terbaiknya karena turnamen ini dinilai sebagai barometer kekuatan pencak silat Kalbar menjelang berbagai event besar olahraga.
Jika sukses, KONI Sintang berencana menjadikan kejuaraan ini agenda rutin tahunan. Mereka menargetkan Sintang bisa menjadi pusat kompetisi pencak silat terbesar di Kalimantan Barat.
Empat hari ke depan, gelanggang Apang Semangai dipastikan terus panas. Bukan hanya perebutan medali, tetapi juga perebutan gengsi antar daerah. Di sinilah para pesilat muda bertarung — bukan sekadar menang atau kalah, melainkan membuktikan siapa yang paling tangguh di Kalbar.












