Menitterkini.com, SINTANG-
Antrean panjang kendaraan truk pengangkut tandan buah segar (TBS) terjadi dalam sepekan terakhir. Antrean bahkan mengular hingga berkilo-kilometer di sepanjang Jalan Poros Sungai Ringin menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT Permata Subur Lestari (PSL) Sintang, Kecamatan Sungai Tebelian.
Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala meminta pihak perusahaan kelapa sawit PSL tidak memfasilitasi aktivitas Louding RAMP atau tempat penampungan dan penimbangan tandan buah segar (TBS) di sekitar jalur masuk pabrik.
Permintaan tersebut disampaikan menyusul keterangan manajemen bahwa sejumlah kendaraan hanya melakukan penimbangan TBS di lokasi pabrik, namun buahnya tidak dibongkar ke pabrik.
Bupati menilai keberadaan fasilitas semacam itu berpotensi menimbulkan kecurigaan dan kecemburuan di kalangan petani maupun sopir yang sedang mengantre.
“Pada kesempatan ini saya berharap kepada pihak pabrik untuk tidak memfasilitasi itu. Karena nanti, taruhlah itu benar, kan membuat kecurigaan dari kawan-kawan yang lain,” kata Bupati. Pada Kamis,(10/9/2026).
“Kalau ada yang bikin Louding RAMP, mestinya mereka bikin Louding RAMP, ya ada fasilitas sendiri. Pabrik sebesar ini ditebeng orang kan enggak pas juga,” ujarnya.
Bupati bahkan mempertanyakan potensi hubungan antara Louding RAMP dengan pihak pabrik apabila aktivitas tersebut tetap berlangsung di sekitar jalur masuk perusahaan.
“Bagaimana saya bisa percaya tidak ada konspirasi antara Louding RAMP dan pabrik kalau situasinya begini. Ini di jalur jalan pabrik kok ada bikin RAMP di sini, kan enggak pas,” tegasnya.
Sebelumnya, Bupati Sintang datang ke pabrik untuk melakukan pengecekan terkait informasi adanya perbedaan jalur antrean kendaraan pengangkut TBS.
Ia mengaku telah bertanya langsung kepada sejumlah sopir dalam perjalanan menuju lokasi. Para sopir menyebut waktu antrean bervariasi, mulai dua hingga empat hari. Mereka juga menyebut adanya jalur kanan dan kiri, meski menurut keterangan yang diterima Bupati, pada hari itu tidak ditemukan jalur khusus tersebut.
Bupati mengakui pihak manajemen membantah adanya perlakuan khusus. Namun, ia meminta perusahaan tetap menjaga transparansi dan keadilan dalam kondisi sulit saat ini.
“Saya berharap dalam situasi sulit ini pabrik bisa bersikap adil. Kalau hari ini lambat, ya sama-sama lambat. Saya hanya berharap satu jalur. Kalau sulit, kita sama-sama sulit. Suatu hari kalau enak, semua jalur enak,” katanya.
Ia mengingatkan, persoalan antrean TBS jangan sampai berkembang menjadi masalah sosial.
“Jangan sampai ada yang diistimewakan. Satu dua orang mempersulit, akhirnya makin mempersulit banyak orang. Ini yang saya antisipasi, masalah sosial. Kita ingin kondusif,” ujarnya.
Pemda Harapkan Integritas Perusahaan
Ketika ditanya mengenai langkah pemerintah daerah ke depan, termasuk kemungkinan pengawasan terhadap aktivitas penerimaan TBS, Bupati mengatakan pihaknya untuk sementara lebih mengedepankan komitmen dan integritas perusahaan.
“Pertama kita berharap integritas dari pihak pabrik. Kita sementara enggak sampai ke sana. Ini tergantung di sini saja lagi,” katanya.
Menurutnya, perusahaan harus menunjukkan komitmen dalam menjalankan usaha tanpa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Ini tergantung komitmen mereka, tergantung hati nurani mereka, seperti apa mereka berbisnis di tempat kita ini. Jangan sampai mereka mau mencari keuntungan, tapi juga membuat kegaduhan,” tegas Bupati.
Sementara itu, Mill Manager pabrik, Ari Purwadi, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti masukan Bupati dan melakukan pengecekan kembali.
“Apapun masukan dari Pak Bupati tadi pastinya akan kami tinjau kembali. Perusahaan sendiri memang seharusnya bersikap adil, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial yang nantinya menyebabkan kegaduhan,” kata Ari.
Terkait kendala operasional, Ari menjelaskan kapasitas pengolahan pabrik saat ini hanya sekitar 300 hingga 400 ton TBS per hari dari target normal sekitar 1.000 ton.
Kondisi tersebut disebabkan keterbatasan sumber air akibat musim kemarau.
“Untuk saat ini kita hanya bisa olah sekitar 300 sampai 400 ton, mengingat kondisi air kita tipis. Ke depan kami usahakan agar bisa mendapatkan sumber air yang lebih banyak, sehingga bisa mencapai target 1.000 ton per hari,” ujarnya.
Saat ini, kata Ari, perusahaan membeli pasokan air dari kawasan Jembatan Malong. Sebelumnya, kebutuhan air pabrik mengandalkan sungai dan anak sungai di sekitar perusahaan.
