Menitterkini.com, SINTANG –
Kondisi kabut asap yang semakin memburuk membuat kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah di Kabupaten Sintang beralih ke sistem daring. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat menerapkan pembelajaran dari rumah mulai 11 hingga 14 Agustus 2026.

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat edaran yang diterima sekolah pada Senin (10/8/2026) sore. Selanjutnya, pelaksanaan pembelajaran akan dievaluasi dengan melihat perkembangan kualitas udara setelah 14 Agustus.
Kepala SMA Negeri 1 Sintang, Hardianto, mengatakan pihaknya langsung menindaklanjuti surat edaran tersebut.
“Surat edaran itu meminta untuk melakukan pembelajaran daring terhadap anak-anak kita mulai tanggal 11 sampai dengan tanggal 14. Ini nanti berlangsung sampai hari Jumat,” kata Hardianto, Selasa (11/8/2026).
Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan respons terhadap kondisi cuaca dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Terlebih, berdasarkan informasi yang diterima pihak sekolah, kualitas udara di Kabupaten Sintang sempat berada pada kategori merah.
“Karena kondisi cuaca, kabut asap akibat pembakaran hutan dan sebagainya. Minggu kemarin Kabupaten Sintang itu sudah merah, sehingga kondisinya sudah mengkhawatirkan,” ujarnya.
Meski surat edaran mulai berlaku Selasa (11/8), siswa SMA Negeri 1 Sintang masih masuk sekolah pada hari pertama. Hal itu karena surat edaran baru diterima pihak sekolah pada Senin sore.
Sekolah juga harus mempertimbangkan agenda Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dijadwalkan.
“Kenapa kita juga masuk pada hari ini? Kita juga terkait dengan survei adanya MBG di SMA Negeri 1 Sintang,” jelasnya.
Selain itu, pengelola dapur MBG sebelumnya meminta pemberitahuan minimal dua hari apabila sekolah akan meliburkan siswa atau menghentikan aktivitas di sekolah.
Karena itu, pada hari pertama penerapan kebijakan, siswa tetap datang ke sekolah. Namun, mereka dipulangkan lebih awal.
“Jadwal kita sampai pukul 15.15. Namun karena kondisi, kita sudah sepakat dengan bapak ibu guru untuk pulang lebih awal,” ungkap Hardianto.
Mulai Rabu (12/8) hingga Jumat (14/8), siswa akan mengikuti pembelajaran dari rumah. Metode pembelajaran diserahkan kepada masing-masing guru.
Materi pembelajaran akan disampaikan melalui grup WhatsApp kelas. Guru dapat memberikan pembelajaran secara tatap layar maupun melalui pemberian tugas.
Hardianto menegaskan, perubahan sistem pembelajaran tersebut bukan berarti siswa diliburkan.
“Ini bukan libur, hanya bentuknya saja yang diubah. Kalau dulu tatap muka di sekolah, sekarang bisa jadi tatap layar, bisa jadi juga tugas-tugasan,” tegasnya.
Siswa tetap diminta mengikuti proses pembelajaran dan aktif berkomunikasi dengan guru selama belajar dari rumah.
Pihak sekolah juga mengimbau siswa mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi kabut asap masih mengkhawatirkan.
“Kita mengimbau kepada para siswa untuk tidak keluar rumah kalau tidak ada hal yang penting karena kondisi cuaca juga semacam ini,” katanya.
Bagi siswa yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, sekolah mengingatkan agar menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan udara yang tidak sehat.
Hardianto berharap kualitas udara segera membaik sehingga pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan.
Sementara untuk kebijakan setelah 14 Agustus, pihak sekolah masih menunggu perkembangan kualitas udara dan keputusan lanjutan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat.












