Menitterkini.com, SINTANG –
Pemerintah Kabupaten Sintang mulai menggenjot penguatan ketahanan pangan berbasis desa melalui pengembangan jagung. Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Program Ketahanan Pangan Jagung Desa, Selasa (27/1/2026), di Pendopo Wakil Bupati Sintang.
Rakor yang digelar Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Sintang itu dihadiri 14 camat, Polres Sintang, Bulog Sintang, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Florensius Ronny menegaskan, pengembangan jagung di Sintang tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Selama ini, berbagai persoalan masih menjadi penghambat, mulai dari ekosistem budidaya yang belum terbentuk, harga jual yang tidak menarik, hingga distribusi hasil panen yang sering menemui jalan buntu.
“Biaya tanam jagung itu tidak kecil. Satu hektare bisa habis Rp25 sampai Rp30 juta. Kalau ekosistemnya tidak jelas, siapa yang mau menanggung risiko? Petani pasti berpikir ulang,” tegas Ronny.
Ia mencontohkan pola pengelolaan jagung terpadu yang sudah berjalan di Desa Mapan Jaya, Kecamatan Kayan Hulu. Di desa tersebut, pengelolaan jagung dilakukan oleh BUMDes dan terintegrasi dengan usaha peternakan ayam, sehingga hasil panen langsung terserap sebagai pakan ternak.
“Ini contoh ekosistem yang sehat. Jagung tidak dijual mentah keluar daerah, tapi dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri. Pola seperti ini yang harus direplikasi,” ujarnya.
Ronny menekankan, setiap desa perlu melakukan improvisasi sesuai potensi wilayah masing-masing. Pemkab Sintang, kata dia, siap memfasilitasi kerja sama antara desa dengan peternak ayam skala menengah hingga besar agar hasil jagung memiliki pasar yang jelas.
“Kalau persoalannya distribusi, pemerintah daerah siap memberi subsidi biaya angkut. Yang penting, siklus produksinya hidup dan semua pihak diuntungkan,” katanya.
Selain itu, Ronny juga mengingatkan agar dana ketahanan pangan dalam Alokasi Dana Desa (ADD) tidak sekadar formalitas. Ia meminta setiap desa mengalokasikan anggaran sekitar Rp10–15 juta untuk program ketahanan pangan yang benar-benar diarahkan pada budidaya jagung.
“Selama ini jagung untuk pakan ternak justru kita datangkan dari luar daerah. Ini ironi. Ke depan, kebutuhan itu harus bisa dipenuhi dari desa-desa di Sintang sendiri,” pungkasnya.












