Menitterkini.com, SINTANG –
Pemerintah Kabupaten Sintang terus mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Hingga kini, luasan lahan terbakar di Kabupaten Sintang diperkirakan mencapai 576,5 hektare dengan 126 titik api.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Kusnidar, mengatakan penanganan karhutla di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya akses menuju lokasi kebakaran, keterbatasan sumber air, peralatan, hingga jumlah personel.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala. Menurutnya, evaluasi penanganan karhutla menunjukkan perlunya pola kerja yang lebih terorganisir dan melibatkan tim khusus.
“Memang kasusnya seperti yang kita sampaikan. Kerjanya harus dibentuk tim,” kata Bala.
Menurutnya, pembentukan tim diperlukan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara lebih terarah. Terutama dalam menentukan lokasi yang menjadi prioritas untuk dipadamkan ketika kebakaran terjadi secara bersamaan di beberapa wilayah.
“Kita mau mengatur kebakaran sini atau padamkan sini, atau terjadi kebakaran juga,” ujarnya.
Bupati mengakui, pemerintah daerah menghadapi keterbatasan dalam mengerahkan sumber daya untuk menangani seluruh titik kebakaran secara bersamaan.
Keterbatasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan personel, tetapi juga sarana dan prasarana pemadaman yang dibutuhkan di lapangan.
“Personel juga sangat-sangat terbatas. Itu yang membuat kita sampai hari ini agak pusing untuk menangani itu,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala BPBD Sintang Kosmidar menyebut salah satu kendala utama di lapangan adalah akses menuju lokasi kebakaran. Tidak semua titik api dapat dijangkau kendaraan pemadam.
Selain itu, jarak sumber air yang cukup jauh membuat proses pemadaman semakin sulit. Keterbatasan panjang selang juga menyebabkan petugas kesulitan menjangkau titik api dari sumber air.
“Kalau mobil tidak bisa masuk, itu menjadi hambatan. Kemudian sumber air juga jauh jaraknya. Kita memang kurang alat, selang kita kurang panjang untuk mencapai titik api,” kata Kusnidar.
Di tengah kondisi tersebut, personel yang terlibat dalam penanganan karhutla juga mulai menghadapi kelelahan. Terlebih, sebagian instansi memiliki jumlah personel terbatas sehingga tidak mudah melakukan pergantian petugas di lapangan.
Kusnidar mengatakan, meski menghadapi berbagai keterbatasan, BPBD bersama instansi terkait tetap berupaya melakukan pemadaman dan penanganan terhadap titik-titik api yang muncul.
Sementara itu, terkait dugaan penyebab kebakaran, BPBD Sintang belum dapat memastikan apakah terdapat keterlibatan korporasi. Untuk sementara, kebakaran masih dianggap sebagai akibat kelalaian karena belum dilakukan investigasi lebih lanjut.
Pemkab Sintang kini mendorong penanganan karhutla dilakukan secara lebih terpadu, dengan pembagian tugas dan prioritas yang jelas agar sumber daya yang terbatas dapat digunakan seefektif mungkin.












