Suara Damai Anak Muda dari Sintang

Menjaga Indonesia Tetap Rumah untuk Semua

Indonesia kembali diuji oleh tantangan kebinekaan. Penolakan terhadap pendirian rumah ibadah Katolik di Kubu Raya, pembatasan kegiatan ibadah kelompok tertentu di Padang, hingga isu-isu transmigrasi yang sering berbuntut pada gesekan SARA, mencerminkan bahwa intoleransi belum sepenuhnya sirna dari ruang sosial kita.

Namun, di tengah hiruk-pikuk perpecahan itu, suara-suara damai justru bergema dari ujung barat Kalimantan, dari Sintang. Anak-anak muda di sana tak memilih bungkam. Mereka memilih bersuara — bukan dengan kemarahan, tetapi dengan keberanian, refleksi, dan aksi nyata menjaga semangat Indonesia yang majemuk.

Belajar Memaknai Toleransi

Bagi Nursamsu Ananda, Presiden Mahasiswa STIKARA Sintang, toleransi bukan hanya slogan, tapi fondasi hidup bersama. “Anak muda harus tahu dulu makna dari toleransi sebelum bisa bersikap terhadap berbagai kasus intoleransi,” tegasnya.

Nursamsu memandang toleransi sebagai jembatan sosial, bukan hanya persoalan antaragama. “Saat ikatan antar manusia ini terputus, maka kedamaian juga ikut terputus. Intoleransi jelas bertentangan dengan Pancasila, terutama sila ketiga: Persatuan Indonesia.” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa menjaga ruang ibadah antarumat beragama, berpartisipasi dalam perayaan keagamaan lain, atau sekadar hadir dalam ruang diskusi lintas iman adalah wujud nyata dari semangat kebersamaan. “Gotong royong menjaga rumah ibadah teman kita adalah penolakan paling indah terhadap intoleransi,” ucapnya.

Dari Kata ke Aksi

Bagi Adzra Nurpadilla, Ketua DEMA STAIMA Sintang, toleransi bukan cuma soal sikap pasif menerima perbedaan, tetapi tentang keberanian untuk membela nilai keadilan. “Anak muda nggak bisa netral saat melihat intoleransi. Kalau kita diam, kita turut membiarkannya terjadi,” ujarnya lantang.

Adzra percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil: tidak menyebar ujaran kebencian, menulis narasi damai di media sosial, atau menggelar diskusi di komunitas. “Tulisan sekarang bisa viral. Satu postingan bisa jadi pemantik dialog, bisa jadi penenang di tengah riuh perpecahan.” katanya.

Ia menitipkan pesan yang sederhana namun dalam, “Perbedaan bukan penghalang, tapi anugerah. Damai itu bukan tujuan akhir, tapi jalan hidup yang mesti kita rawat.” pesannya.

Rukun Itu Luar Biasa

Muhammad Afrizal, Wakil Ketua DEMA STAIMA Sintang, mengingatkan pentingnya menjadi jembatan di tengah perbedaan. “Anak muda hari ini harus berani menolak diskriminasi dan menjadi ruang perjumpaan, bukan pembatas,” katanya.

Bagi Afrizal, kerukunan bukan sesuatu yang instan. Ia perlu dibangun dengan kesadaran dan kesediaan untuk mendengar. “Berbeda itu biasa, tapi rukun itu luar biasa. Dan semua harus dimulai dari kesadaran diri.”tuturnya.

Menyuarakan Damai dengan Adab

Sementara itu, Mar’i Faisal Zulyandi, Ketua PC PMII Sintang, menekankan pentingnya menyampaikan pendapat dengan santun. “Menyuarakan perbedaan boleh, tapi jangan kehilangan adab. Jangan sampai semangat membela yang benar malah jadi alasan untuk menyakiti,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga keyakinan tanpa menjatuhkan keyakinan orang lain. “Kita bisa kuat dalam prinsip, tapi juga bisa lembut dalam sikap. Seperti dalam Al-Qur’an, Lakum dinukum waliyadin — untukmu agamamu, untukku agamaku.” tegasnya.

Melawan dengan Dialog, Bukan Amarah

Adi Rifaldi, pengurus HMI Cabang Sintang, mengajak anak muda untuk memperluas ruang-ruang dialog. “Kita harus jadi agen perubahan yang menjaga keberagaman. Jangan terjebak pada dikotomi ‘kita’ dan ‘mereka’,” katanya.

Adi menekankan pentingnya empati. Baginya, intoleransi tak cukup dilawan dengan marah, tapi harus dengan mendengarkan dan mengajak bicara. “Perbedaan tidak perlu diselesaikan, tapi dirayakan bersama.” katanya.

Damai yang Harus Dijaga, Bukan Diharapkan

Suara-suara anak muda dari Sintang ini menunjukkan bahwa perdamaian tidak hadir begitu saja. Ia dibangun dari sikap, tindakan, dan kebiasaan. Ia tidak bisa hanya diharapkan dari pemerintah atau pemuka agama, tapi justru tumbuh dari akar rumput — dari kampus, komunitas, hingga media sosial.

Seperti yang dikatakan Nursamsu, “Tidak ada mayoritas atau minoritas, yang ada adalah manusia yang saling membutuhkan dan saling menjaga.” ulasnya.

Mereka tidak sedang menyamakan perbedaan, tapi sedang merayakan keberagaman. Karena Indonesia bukan tentang satu warna, tapi tentang lukisan yang kaya oleh berbagai corak.

Dan seperti kata Adzra, damai bukan tujuan. Ia adalah cara hidup yang harus terus kita rawat — oleh kita, anak-anak muda Indonesia.(*)

Exit mobile version