Inflasi Sintang Capai 3,5 Persen

SINTANG, MenitTerkini.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sintang, Kartiyus, mengungkapkan angka inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) Kabupaten Sintang pada September 2026 berada di kisaran 3,5 persen. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mencapai sekitar 4,4 persen.

Meski mengalami penurunan, tekanan terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat masih dirasakan. Kondisi cuaca ekstrem berupa kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produksi pangan lokal maupun kelancaran distribusi barang ke Kabupaten Sintang.

Kartiyus mengatakan, dampak kemarau panjang mulai terlihat dari berkurangnya hasil produksi sejumlah komoditas pertanian, khususnya sayuran yang selama ini dipasok dari petani lokal.

Akibatnya, ketersediaan beberapa jenis sayuran di pasaran menjadi terbatas. Sementara itu, kebutuhan masyarakat tetap berjalan sehingga harga sejumlah komoditas mengalami kenaikan.

Ia mencontohkan harga kangkung yang kini bisa mencapai Rp10 ribu per ikat. Padahal, komoditas tersebut selama ini relatif mudah diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau.

“Sekarang harga barang di pasar mahal. Kangkung saja bisa Rp10 ribu seikat karena banyak yang tidak menanam akibat kemarau. Kalau harus didatangkan dari daerah lain, biaya angkutnya juga mahal,” ungkap Kartiyus kepada MenitTerkini.com, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan menurunnya produksi pangan lokal, tetapi juga dipengaruhi oleh tingginya biaya transportasi untuk mendatangkan pasokan dari daerah lain.

Kondisi ini semakin terasa karena keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi aktivitas transportasi dan distribusi barang menuju Kabupaten Sintang.

Kartiyus menjelaskan, distribusi BBM yang belum sepenuhnya lancar berdampak terhadap meningkatnya biaya operasional pengangkutan. Situasi tersebut pada akhirnya ikut memberikan tekanan terhadap harga barang yang dijual di pasaran.

Terlebih, kondisi kemarau panjang juga berdampak pada debit air sungai yang menjadi salah satu jalur penting transportasi dan distribusi logistik di wilayah Kalimantan Barat, termasuk menuju Kabupaten Sintang.

Karena itu, ia berharap kondisi cuaca segera membaik dan hujan kembali turun secara merata. Dengan demikian, debit air sungai dapat kembali normal sehingga aktivitas transportasi dan pengiriman BBM maupun kebutuhan pokok masyarakat bisa berjalan lebih lancar.

“Mudah-mudahan kondisi air sungai cepat normal sehingga distribusi BBM ke Sintang semakin lancar, dan harga kebutuhan masyarakat kembali membaik,” harap Kartiyus dengan nada sedih.

Ia menilai, kelancaran distribusi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga di daerah. Sebab, ketika pasokan barang dapat masuk secara normal, ketersediaan kebutuhan masyarakat di pasar diharapkan tetap terjaga.

Di sisi lain, penurunan angka inflasi Kabupaten Sintang menjadi perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diimbangi dengan upaya menjaga ketersediaan bahan pangan dan memastikan distribusi barang berjalan tanpa hambatan.

Menurut Kartiyus, normalisasi kondisi sungai dan kelancaran pasokan BBM diharapkan dapat membantu menekan biaya angkut barang. Dengan begitu, tekanan harga kebutuhan pokok masyarakat bisa berangsur berkurang dan aktivitas perekonomian daerah kembali berjalan lebih baik.

Pemerintah daerah pun berharap kondisi alam segera bersahabat sehingga produksi pangan lokal kembali meningkat, pasokan barang semakin lancar, dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *